
Esports Awards 2025:
Faker Jadi GOAT
Industri esports lagi-lagi bikin sejarah. PlayKami Esport kali ini ngebahas momen spesial: Esports Awards 2025 Decade Edition yang digelar di Riyadh, Arab Saudi. Sepuluh tahun penuh drama, hype, dan highlight akhirnya dirayakan dalam satu panggung megah. Dari Faker yang dinobatkan sebagai “GOAT”, sampai Riot Games yang makin kokoh jadi publisher paling berpengaruh. Tapi, tentu aja nggak lengkap kalau kita nggak bahas kontroversi, satir, dan fun fact di balik semua award ini.
League of Legends, Sang Raja Abadi

LoL lagi-lagi membuktikan diri sebagai Esports Game of the Decade. Dari warnet ke stadion, dari 5v5 receh jadi world championship yang ditonton jutaan pasang mata, dominasi Riot ini bukan isapan jempol. Lucunya, banyak yang bilang, “LoL itu game pensi,” tapi coba tanya ke Faker. Cowok satu ini masih angkat piala dan diakui sebagai PC Player of the Decade. Bayangin, 10 tahun masih relevan, sedangkan sebagian pemain Mobile Legends baru setahun main udah bikin video pamitan.
T1 juga ikut bawa pulang gelar Team of the Decade. Kalau sepak bola punya Real Madrid, esports punya T1. Beda tipis: di Madrid orang nendang bola, di T1 orang nendang mental lawan.
Breakthrough, Streamer, dan Satir Khas Komunitas
Mathieu “ZywOo” Herbaut dari CS:GO/CS2 dapet gelar Breakthrough Player of the Decade. Nggak heran, pemain muda ini literally jadi mimpi buruk semua musuh. Kalau di ranked ketemu nick ZywOo, mending uninstall sekalian.

Sementara itu, Félix “xQc” Lengyel jadi Streamer of the Decade. Ya jelas, siapa lagi yang bisa bikin konten serandom itu tapi ditonton jutaan orang? Dari tidur di live, ragequit nggak jelas, sampai main slot live sambil teriak “poggers”. Dark joke-nya? Jumlah viewer xQc kadang lebih tinggi daripada jumlah fans tim MPL ID kalau lagi kalah telak.
Kontroversi di Balik Lampu Sorot
Edisi 2025 ini bukan tanpa drama. Kerja sama dengan Esports World Cup Foundation langsung bikin tuduhan “sportswashing” bermunculan. Komunitas langsung rame: “Apakah esports masih tentang passion, atau cuma PR politik?” Satirnya, kadang lebih gampang nemuin sponsor gede di esports daripada nemuin tim Indo lolos ke Worlds.
Beberapa kategori juga dihapus, termasuk Esports Journalist of the Decade. Ironi banget. Tanpa jurnalis, siapa yang mau nulis semua clickbait “tim X kalahkan tim Y dengan skor 2-1” yang lo baca tiap minggu?
Figur Legendaris: Dari Nadeshot ke Sjokz
Matthew “Nadeshot” Haag, mantan pro COD yang sekarang jadi bos 100 Thieves, jadi Esports Personality of the Decade. Dari soldier di map Nuketown, sekarang jadi CEO dengan outfit hypebeast.

Di sisi lain, Eefje “Sjokz” Depoortere dikukuhkan sebagai On-Air Talent of the Decade. Kualitas hosting + karisma yang bikin semua broadcast LoL terasa elegan. Bandingin sama caster-caster dadakan di turnamen kecil Indo yang kadang lebih rame bacotnya daripada playernya.
Organisasi dan Event Ikonik
Intel keluar sebagai Commercial Partner of the Decade. Liquipedia sabet Content & Coverage Platform, membuktikan kalau tanpa wiki, kita semua cuma debat nggak jelas di forum.
Momen terbaik? LoL Worlds 2017. Event yang literally jadi blueprint semua turnamen esports modern. Dari stage megah, musik, sampai hype penonton. Kalau lo bandingin sama event kecil Indo di mall yang kursinya masih plastik, jelas beda levelnya bro.
Analisis: Apa Maknanya Buat Esports Indonesia?
Buat kita di Indonesia, perayaan ini reminder bahwa 10 tahun terakhir esports berkembang gila-gilaan. Dari warnet kecil ke stadion, dari hadiah skin jadi hadiah miliaran rupiah. Tapi kita juga harus jujur: ekosistem lokal masih perlu upgrade. Mulai dari manajemen tim yang sering drama keuangan, sampai caster-caster yang lebih sibuk ngegas di mic daripada analisis game.
PlayKami Esport hadir buat nge-bridge itu semua. Jadi platform buat bahas turnamen global, tapi juga ngasih spotlight ke scene lokal. Dari MPL ID, MSC, sampe komunitas Valorant Indo, semua layak dikupas dengan gaya fun, kritis, tapi tetep kasih insight tajam.
Daftar Lengkap Pemenang Esports Decade Awards 2025
Era Emas, Tapi Jangan Lengah
Sepuluh tahun terakhir udah jadi bukti bahwa esports bukan cuma tren musiman, tapi fenomena budaya global. Faker, T1, Riot, xQc — semua nama ini udah jadi legenda. Tapi pertanyaan selanjutnya: siapa yang bakal jadi ikon 10 tahun berikutnya?
Kalau lo punya opini, tulis di kolom komentar. Jangan lupa klik tombol share di bawah biar temen lo juga ikutan debat. Dan kalau mau nonton streamer favorit, turnamen dunia, atau bahkan tim bola idola lo secara langsung, langsung aja ke PlayKami. Trust me, pengalaman esports + hiburan olahraga di sini udah level beda.